I Love You, Prilly..


Prilly POV

"Happy birthday Dava.. happy birthday Dava.. Happy birthday, happy birthday, happy birthday Dava..." riuh tepuk tangan memenuhi ruangan ketika Dava meniup lilin berangka 17 tahun itu.
Dava memotong blackforest  yang penuh dengan potongan strowberry  yang bikin ngiler itu. Sekilas Dava tersenyum ke arah gue. Lalu sambil membawa potongan kecil kue di tangannya, dia datang mendekati tempat gue berdiri. Sejurus kemudian dia berlutut di depan gue dan memberikan potongan kue tadi untuk gue.
"Buat kamu, Prilly," ucapnya lirih.
Gue bengong. Gak habis pikir, kenapa bisa dapat potongan pertama dari Dava.
Oh God!
Dava tersenyum manis, dan Dava menyuapkan kue itu ke mulut gue sambil berucap, "Makasih."
"Lihat itu, Prill!" Dava menunjuk ke langit di ikuti dengan pandangan seluruh undangan yang hadir disana.
Gue melotot, melihat gue yang gue lihat disana. Kembang api yang sangat indah, bertuliskan kalimat yang indah pula.
- I LOVE U -
Para undangan yang ada di pesta ini bersorak kagum. Gue mendengar banyak bisikan-bisikan iri ke gue. Benar-benar kejutan yang gak pernah terduga.
"Prilly, aku sayang kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?" Dava meraih jemari gue dan menggenggamnya erat.
Gue memejamkan mata sejenak, untuk mengumpulkan kekuatan agar gue bisa menjawab "Ya," namun mulut gue terkunci, gak ada sepatah kata pun keluar dari sana.
Gue hanya tersenyum. Gue inget kado buat dia belum gue berikan. Sepertinya ini saat yang tepat. Segera gue ambil kado berpita biru dari dalam tas lalu memberikan ke Dava.
Raut muka Dava kembali berseri. Dia seneng banget dapet kado dari gue. Walaupun belum tau apa isi di dalamnya. Dia tersenyum menatap gue.
"Dava, kamu sahabat yang baik, tapi sepertinya terlalu cepat kalo kita menjalin hubungan yang lebih jauh."
Tampak raut kekecewaan tergambar dari wajahnya namun buru-buru dia tersenyum.
"Aku akan menunggu, Prill" ucapnya lagi-lagi dengan tersenyum ramah.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Untung saja acara sudah selesai. Jadi, para undangan bisa segera pulang ke rumah masing-masing.
Dava nengantar gue pulang ke rumah. Saat itu hujan turun dengan deras. Ini nenyebabkan lama perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 45 menit menjadi lebih lama.
"Aku antar sampe masuk dalam ya, Prill." tukas Dava sambil mengambil payung di bawah joknya.
"Eh, gak usah." tolak gue.
Dava memayungi gue turun dari mobil.
Tiba-tiba..
"Meongg.."
Gue mendengar suara kucing mengeong.
"Eh, kucing Dav .." ujar gue pada Dava dalam perjalanan ke teras rumah gue. Gue memandang berkeliling mencari asal suara kucing itu. Dava cuek saja. Mungkin dia tak mendengar ucapan gue.
Gue dan Dava terus berjalan menerjang hujan. Mata gue mencari dimana kucing itu berada. Ternyata dia berada di seberang jalan, basah kuyup kehujanan.
"Prill?" tanya Dava heran.
"Hmm?!" gue tersentak kaget, lalu memandangnya.
"Kamu liatin apa sih?" Dava celingak-celinguk mencari apa yang bikin gue mengalihkan perhatian gue darinya.
"Gak, gak papa kok" gue menggeleng salting. Gue gak kasih tau Dava mengenai keberadaan kucing itu.
Kami sudah sampai di teras depan rumah gue.
"Em, yaudah Dav, makasih ya udah anter aku" tukas gue mengalihkan pembicaraan. Membuat Dava mengakhiri aksi celingukannya.
"Eh iya Prill, udah malem juga. Kamu butuh istirahat. Makasih ya udah dateng ke ultahku dan membuat hari ini lebih spesial buatku," ucap Dava tulus.
Gue tersenyum dan mengangguk.

"Bye"
"Bye, hati-hati di jalan ya" jawab gue sembari tersenyum.
Dava berjalan menuju mobilnya saat sampai di pintu gerbang rumah gue, tiba-tiba saja Dava berbalik dan berlari ke arah gue.
"Prilly!" ucapnya saat berada di depan gue.
Gue mengernyitkan dahi memandangnya.
"Ada apa, Dav?!"
Dava meraih kedua tangan gue. Seperti menggenggam sebongkah es batu, jemari Dava dingin. Dia menggenggam erat tangan gue.
"Aku cuma mau bilang, aku sayang banget sama kamu." Gue tatap kedua matanya ada ketulusan disana. Seketika gue rasakan ada kehangatan tiba-tiba menjalar tubuh gue.
Gue bahagia.
"Makasih, Dav. Aku juga sayang kamu, tapi kalo untuk..."
"Aku gak minta kamu menjalin hubungan serius itu sekarang," jawabnya memotong ucapan gue. "Aku akan bersedia nunggu kamu, Prill."
Kami berdua tersenyum lalu dia memeluk gue erat. Punggung Dava menghilang di balik derasnya hujan. Gue masih terpaku di teras rumah. Sepertinya orang-orang di rumah sudah terlelap karena sekarang ini sudah jam 00.30, sehingga mereka gak menyadari kedatangan gue.
Gue memikirkan kejadian hari ini. Ultah Dava, ketulusan cintanya, ahh semuanya penuh kejutan serba tiba-tiba. Tak pernah terbersit dalam pikiran gue sebelumnya. Dava benar-benar mencintai gue terpancar dari sorot matanya.
Gue beruntung dicintai oleh seseorang yang baik dan perhatian seperti Dava. Hm... Gue menghela nafas pelan, mungkin sudah saatnya gue melupakan Ali sahabat kecil gue.
"Meongg"
Ah, ternyata kucing itu masih disana. Gue lihat sorot matanya yang mengiba, terlihat dari terpaan cahaya lampu jalan. Seperti dia butuh pertolongan.
Tanpa berpikir panjang, gue turun ke jalan menerjang hujan yang semakin deras. Perlahan gue buka gerbang di halaman rumah gue. Gue gak mau membangunkan orang rumah dengan bunyi berderit dari gerbang ini. Jalanan sepi saat itu. Gue lirik jam yang melingkar di tangan gue 01:05.
"Puss...pusss" gue raih kucing itu, gue dekap dalam pelukan. Entah kucing siapa ini begitu tega meninggalkannya kehujanan di tengah jalan. Gue belai bulunya yang tebal dan lembut sangat terawat.
"Meongg... meongg" serunya menggemaskan. Gue semakin memeluknya erat.
"Hmm... kamu bakal jadi kucing kesayanganku" gumam gue tersenyum memandang kucing yang sedang gue gendong.
Gue menyebrang jalan hendak kembali ke rumah. Gue sadar udara malam gak bersahabat dengan gue, jadi gue memutuskan untuk membawa kucing ini pulang ke rumah gue.
Tiba-tiba
Ada suara motor yang sangat memekakkan telinga. Suara itu datang dari arah kiri jalan. Gue gak bisa lihat apa-apa karena tiba-tiba lampu jalan itu mati. Gue juga gak melihat cahaya lampu dari motor itu. Gue hanya mendengar suara mesin motor yang melaju sangat kencang.
Gue panik. Mencoba mundur ke belakang.
"BRAKK!! MEEEOONG!!"
Gue terpental jauh ke semak-semak.
"Ah.. ya Tuhan.." rintih gue. Hujan masih belum ada tanda-tanda tuk berhenti.
Lalu banyak cahaya menghampiri gue. Sangat menyilaukan hingga mengharuskan gue menyipitkan mata. Di antara cahaya-cahaya menyilaukan itu, ada Oma yang mengulurkan tangannya. Dan gue menyambut uluran tangan itu. Lalu gue dan Oma berjalan beriringan berdua sambil tersenyum cerah. Gue merasa kedamaian menyelimuti hati gue. Bebas. Tenang.

¶¶¶¶¶¶
Haaii readers kesayangan authorviy🙋
Maaf di chapter ini dan selanjutnya gegana dulu yaa😂
Jangan lupa votementnya oke😘
Tunggu next chapter yaa❤
Lopelopekecupjauh dari authorviy💋💋❤❤
Byebye