Di Belakangku


Minggu, 9 February 2015
Dear diary..
Ali Argianta Syarief, segalanya serasa mimpi kemarin meskipun gue tau Ali mungkin terpaksa melakukan itu semua.
Dia membopong gue saat gue pingsan dan membawa gue pulang sementara Papa sama Mama mau temu kangen ke rumah sahabat lamanya. Raja yang menceritakan padaku. Gue gak tau mungkin itu semata-mata buat bantuin Papa gue. Gak lebih. Meski begitu gue merasa senang gue gak masalah meski dia menjelek-jelekkan gue. Asalkan gue masih bisa melihatnya tersenyum meskipun senyumnya bukan untuk gue. Yahhhh sudahlah....
O'ya gue lagi sebel banget sama Kak Ichell! Selalu jodoh-jodohin Ali sama gue! Bikin gue malu aja pasti Ali ngira gue yang nyuruh Kak Ichell berlaku seperti itu. Huhh menyebalkan!
••••••••••
Prilly POV
Hari senin yang selalu melelahkan. Harus berangkat lebih pagi untuk upacara setelah itu olahraga pula. Walaupun gue dapat dispensasi gak ikut pelajaran olahraga karena penyakitku ini. Bukannya seneng tapi gue justru risih dengan perlakuan istimewa ini. Gue pengin ikut olahraga, gue juga pengin sehat seperti teman yang lain. Entah darimana penyakit gue ini berasal tau-tau udah bersemayam di badan gue. Keadaan ini membuat gue terasa sangat lemah. Karena tanpa permisi tiba-tiba biaa kambuh, nafasku sesak dan ujung-ujungnya pingsan. Gue gak nyaman dengan kondisi badan gue seperti ini. Ya Tuhan.... sehatkan aku, doa gue dalam hati.
"Penyakit Prilly makin parah kelihatannya, dia sering kambuh akhir-akhir ini."
Sayup-sayup gue dengar obrolan Mama dan Bunda di ruang keluarga gak sengaja gue dengar saat gue melintas disana. Gue berhenti ingin mendengar lebih banyak lagi.
"Mungkin sudah waktunya check up. Titip Prilly, ya."
Pinta Mama ke Bunda. Seketika pandanganku kabur air mata gue siap-siap meluncur.
"Maafkan Prilly Ma, Bun selalu aja bikin masalah nyusahin terus tapi Ily juga gak pengin kayak gini terus, Ily pengin sehat!" ratapku dalam hati.
"Kalau ada apa-apa, kamu segera hubungi aku ya" lanjut Mama.
"Iya pasti" jawab Bunda mantap.
"Oya, Ichell gimana?"
"Entahlah aku juga bingung. Itu permintaan terakhir Opa. Tapi aku juga gak berani memaksakan kehendak. Ichell sendiri nantinya yang menjalani, biarka dia mempertimbangkan dulu."
"Ada apa sih sama Kak Ichell? Gue penasaran pengin tetap menguping tapi buru-buru gue sadar melirik arloji biru bergambar doraemon yang melingkar di pergelangan tanganku. Waduh, hampir aja terlambat, udah hampir jam 4.
Tergesa gue naik ke kamar gue di lantai atas. Mengambil tas gue. Sore ini gue ada janji belajar kelompok bareng Mila dan Gritte.
Sore ini Papa dan Mama balik ke Jakarta. Gue mau nunjukin ke mereka kalo gue sehat. Gue harus seger! Gue harus fit! Gak boleh kelihatan pucet!
Jadi, gue turun ke bawah sambil nyanyi-nyanyi dan menebar senyuman kepada mereka.
"Mama, Ily kangen masakan Mama. Ily mau dong di suapin makannya" ucap gue manja.
Mama tersenyum mendengar permintaan gue.
"Iya, tunggu sebentar ya sayang Mama siapin dulu makannya"
••••••••••
"Prill, ntar gue baca ya pliss pliss..." rayu Gritte saat di ruang
ganti. Hari ini pelajaran olahraga. Gue hanya menaikkan alis gue tanda setuju.
Gritte tau semua tentang gue dia teman sebangku terbaik yang pernah gue temui. Kami selalu bertukar cerita. Dia tempat curhat terbaikku. Kami selalu impas dia cerita, gue juga cerita. Berbeda dengan Mila dia selalu mau tau kisah orang.
Tapi dia merahasiakan kisahnya sendiri. Terkadang nyebelin giliran gue bertanya siapa cowok yang dia taksir dia bahkan mengunci mulutnya rapat-rapat. Ah meski begitu dia tetap sahabat gue.
"Terus kemarin gimana?" tanya Gritte sambil menutup buku harianku. Mila yang duduk di bangku depan gue sontak menoleh. Sepertinya dia juga udah gak sabar mendengar cerita gue.

"Prilly, di panggil Pak Bayu," ucap Mila tiba-tiba segera gue menghampiri Pak Bayu yang udah siap di lapangan olahraga.
"Ada apa Pak?" tanyaku.
"Kata Mila, hari ini kamu ikut olahraga? Emangnya kamu udah sembuh?"
"Belum Pak! Maksa ikut tuh Pak!" ucap Mila.
"Benar begitu Prilly?" tanya Pak Bayu menegaskan.
"Iya Pak saya ikut olahraga, saya sudah sembuh kok Pak" gue gak mengubris ucapan Mila.
"Yakin?"
"Yakin Pak! 100%"
"Oke. Gabung sama yang lain"
Gue tersenyum ceria. Gue ingin membuktikan kalau gue bisa! Gue gak selemah itu apalagi jadwal olahraga kelas gue barengan sama kelasnya Ali.
Hari ini olahraga basket. Gue bisa ngikutin. Gue lihat Ali main basket, mendrible bola shooting.
Ali emang keren banget. Pasti banyak yang naksir dia. Termasuk gue tentunya haha.
Saat gue hendak ke ruang ganti.......
"Ali!" sapa Mila. Dan gue lihat Ali tersenyum ramah kepadanya.
Gue iri sama Mila. Gak pernah Ali begitu sama gue. Mungkinkah Ali suka sama Mila?

¶¶¶¶¶¶¶¶
Halohaaaa author balik lagiiii :D
Maaf ya readers nunggu lama :)
Author masih sibuk sama kerjaan nih hehe di maklumi ya readers :)
Pasti udah pada kangen yaa sama author *apaansih :D
#abaikan
Nah lohh Prilly udah mulai cemburu tuh :))
Gimana mau lanjut gak ceritanya?
Ini author ngetik lewat hp loh bukan lewat laptop yaa :)
Ayoo dongg vote yg banyak yaa dan jngan lupa commentnya juga oke ;)
Biar author tambah semangat ngetiknya :)
Masa dari chapter satu gam ada yg comment sih kan author syedihhh ;)
Yaudah segitu aja dari author yaa readers tunggu next chapter yaa :)
Lopelopee kecup jauh dari author :*:*:* :D byebye